SUKABUMI — Seputar Jagat News. Di tengah tuntutan dunia pendidikan yang semakin kompleks, keberhasilan sebuah sekolah tidak semata-mata diukur dari capaian akademik. Lebih dari itu, budaya kebersamaan, keterlibatan orang tua, kekompakan tenaga pendidik, dan kepemimpinan yang terbuka menjadi fondasi penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang sehat dan berprestasi.
Gambaran tersebut terlihat di SD Negeri 2 Purabaya, sekolah dasar negeri yang berada di pusat Kecamatan Purabaya, Kabupaten Sukabumi. Sekolah ini dikenal aktif mengikuti berbagai kegiatan dan mencatatkan prestasi pada sejumlah tingkatan.
Di balik berbagai capaian tersebut, terdapat pola pengelolaan yang menempatkan kolaborasi sebagai bagian penting dalam setiap kegiatan sekolah. Kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan, komite, hingga wali murid dilibatkan sesuai dengan peran masing-masing.
Saat ditemui awak media, Kepala SD Negeri 2 Purabaya, Rusli Fahmi, S.Pd., menekankan bahwa keberhasilan program sekolah tidak dapat dibangun seorang diri.
“Sebelum tangan mulai berkarya, semangat sudah menyala. Sebelum kelas berubah rupa, kebersamaan telah menyatukan kita. Hari ini bukan sekadar lomba, tetapi tentang gotong royong, kreativitas, dan kebahagiaan yang kita ciptakan bersama.”
Menurutnya, setiap kegiatan harus menjadi ruang bagi seluruh unsur sekolah untuk berkontribusi. Bukan hanya mengejar hasil akhir, tetapi juga membangun karakter peserta didik melalui pengalaman bekerja sama, berkreasi, dan bertanggung jawab.
“Bismillah, live challenge dimulai. Satu semangat, satu kebersamaan, satu karya untuk SD Negeri 2 Purabaya,” demikian semangat yang digaungkan dalam salah satu kegiatan sekolah.
Kepemimpinan Partisipatif Jadi Kekuatan
Dari sisi manajemen pendidikan, pola tersebut menunjukkan pendekatan kepemimpinan partisipatif. Kepala sekolah tidak hanya berperan sebagai pengambil keputusan, tetapi juga membangun komunikasi dengan unsur sekolah sebelum sebuah program dilaksanakan.
Tenaga kependidikan SD Negeri 2 Purabaya, Ruslan, mengungkapkan bahwa keterlibatan bersama menjadi salah satu karakter yang ia rasakan dalam kepemimpinan Rusli Fahmi.
“Setiap kegiatan selalu didiskusikan. Semua dilibatkan dalam setiap event. Saya sendiri selalu mengikuti arahan beliau. Menurut saya, pola seperti ini membuat pekerjaan lebih terarah karena setiap orang memahami tugas dan tanggung jawabnya,” ujar Ruslan.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa koordinasi internal menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga konsistensi pelaksanaan program sekolah.
Dalam perspektif pengelolaan organisasi, komunikasi dua arah dan pembagian peran yang jelas dapat memperkuat rasa memiliki (sense of ownership) terhadap program. Ketika guru dan tenaga kependidikan merasa dilibatkan, pelaksanaan kegiatan tidak berhenti pada instruksi struktural, tetapi berkembang menjadi kerja kolektif.
Komite Sekolah: Keterbukaan Menjadi Modal Kepercayaan
Hal senada disampaikan Ketua Komite SD Negeri 2 Purabaya, Encep Rustandi. Ia menilai keterbukaan menjadi salah satu hal yang penting dalam membangun hubungan antara sekolah, komite, dan orang tua siswa.
“Alhamdulillah, asas keterbukaan selalu dikedepankan oleh kepala sekolah. Setiap ada langkah yang akan dijalankan, kami selalu diikutsertakan,” kata Encep.
Menurutnya, keterlibatan komite bukan sekadar formalitas. Komite memiliki posisi strategis sebagai mitra sekolah dalam membangun komunikasi dengan orang tua dan masyarakat.
“Dengan komunikasi yang terbuka, kami bisa mengetahui arah kegiatan sekolah dan ikut memberikan dukungan sesuai kemampuan. Prinsipnya adalah bagaimana sekolah, komite, dan wali murid bisa berjalan bersama untuk kepentingan pendidikan anak-anak,” tambahnya.
Prestasi Bukan Tujuan Tunggal
Menariknya, pola kolaboratif yang dibangun SD Negeri 2 Purabaya tidak hanya terlihat dalam kegiatan akademik, tetapi juga pada berbagai aktivitas ekstrakurikuler dan kegiatan kreatif siswa.
Di sinilah prestasi ditempatkan sebagai salah satu dampak dari proses, bukan satu-satunya tujuan.
Sekolah yang sehat secara organisasi membutuhkan lingkungan yang memungkinkan siswa belajar bekerja sama, berkomunikasi, berkompetisi secara sehat, dan menghargai kontribusi orang lain. Peran guru kemudian tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga fasilitator yang membantu siswa mengembangkan potensi.
Keterlibatan wali murid juga menjadi bagian penting. Dukungan orang tua terhadap kegiatan sekolah dapat menciptakan kesinambungan antara pendidikan di sekolah dan pembentukan karakter di lingkungan keluarga.
Menjaga Tradisi Kebersamaan
SD Negeri 2 Purabaya menunjukkan bahwa sekolah dengan sumber daya yang dikelola secara kolaboratif memiliki peluang lebih besar untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang dinamis.
Namun, keberlanjutan prestasi tentu tidak cukup hanya mengandalkan figur kepala sekolah. Budaya keterbukaan dan kolaborasi perlu dibangun menjadi sistem yang dapat terus berjalan meskipun terjadi pergantian kepemimpinan.
Karena itu, tantangan ke depan bukan sekadar mempertahankan prestasi, melainkan memastikan bahwa budaya positif tersebut menjadi bagian dari tata kelola sekolah.
Pada akhirnya, sekolah bukan hanya tempat siswa menerima pelajaran. Sekolah juga merupakan ruang untuk belajar tentang kehidupan: bagaimana bekerja bersama, menghargai perbedaan, bertanggung jawab, dan menghasilkan karya.
Dan di SD Negeri 2 Purabaya, semangat itu tampaknya sedang dibangun dari hal yang sederhana: kepala sekolah yang membuka ruang komunikasi, tenaga pendidik yang siap bergerak bersama, komite yang merasa dilibatkan, serta orang tua yang ikut mengambil bagian.
Sebab, prestasi yang lahir dari kebersamaan bukan hanya menghasilkan piala, tetapi meninggalkan pengalaman dan karakter yang jauh lebih berharga bagi generasi penerus.
(Sukma)
