Sidak BGN di Dapura MBG Viral Bandung Barat, Soroti Standar Higienitas dan Tata Alur Produksi

WhatsApp Image 2026 03 26 at 8.33.31 PM

Bandung Barat – Seputar Jagat News. Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) milik pria yang viral karena pernyataan “cuan Rp 6 juta” mendapat inspeksi mendadak (sidak) dari Badan Gizi Nasional (BGN), Rabu (25/3/2026).

Sidak tersebut dipimpin Direktur Pemantauan dan Pengawasan Wilayah II BGN, Brigjen Doni Dewantoro. Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya pengawasan terhadap implementasi program MBG, khususnya terkait standar operasional, higienitas, dan alur distribusi makanan.

Temuan Lapangan: Akses dan Alur Produksi Jadi Sorotan

Dalam video yang beredar, Brigjen Doni tampak meninjau langsung kondisi dapur SPPG yang berlokasi di Desa Pangauban, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat. Ia menyoroti keterbatasan akses dan ketidakteraturan alur produksi makanan.

“Seharusnya jalur dari ompreng ke tempat packing tidak melewati loading area yang kotor,” ujar Doni saat inspeksi.

Ia juga menginstruksikan agar dilakukan penataan ulang ruang, termasuk penambahan pintu untuk memisahkan area bersih dan kotor serta optimalisasi ruang menjadi gudang penyimpanan.

Penekanan tersebut mengindikasikan pentingnya pemenuhan standar keamanan pangan dalam program MBG, yang menyasar kelompok rentan seperti anak-anak sekolah.

Respons Pengelola: Siap Lakukan Pembenahan

Pemilik SPPG, Hendrik, terlihat kooperatif selama sidak berlangsung. Ia menyatakan kesiapannya untuk mengikuti seluruh arahan yang diberikan BGN.

“Siap, mau ditutup siap, Pak,” ujarnya singkat menanggapi instruksi perbaikan.

Sikap tersebut menunjukkan adanya ruang perbaikan dalam implementasi teknis di lapangan, sekaligus komitmen pelaku mitra untuk menyesuaikan dengan standar yang ditetapkan pemerintah.

Klarifikasi Isu “Cuan Rp 6 Juta”

Di tengah sorotan publik, Hendrik sebelumnya memberikan klarifikasi terkait insentif Rp 6 juta yang menjadi viral di media sosial. Ia menegaskan bahwa dana tersebut bukan berasal dari pemotongan jatah penerima manfaat.

Menurutnya, insentif itu merupakan bentuk apresiasi dari Presiden Prabowo Subianto kepada mitra pelaksana program.

“Jangan sampai netizen salah paham. Itu bukan dari jatah anak-anak, tapi insentif dari Presiden,” ujarnya.

Namun, ia juga mengungkapkan bahwa operasional SPPG masih jauh dari titik impas. Dengan investasi awal mencapai Rp 3,5 miliar untuk pembangunan dapur seluas sekitar 1.000 meter persegi, pemasukan yang diterima belum menutup biaya yang telah dikeluarkan.

Ia menjelaskan bahwa insentif Rp 6 juta tidak diterima setiap hari dalam satu bulan penuh, melainkan hanya sekitar 24 hari operasional.

Catatan Investigatif: Antara Investasi Besar dan Standar Layanan

Kasus ini membuka dua sisi penting dalam implementasi program MBG. Di satu sisi, terdapat partisipasi swasta dengan investasi signifikan yang menunjukkan kepercayaan terhadap program pemerintah. Namun di sisi lain, pengawasan ketat tetap diperlukan untuk memastikan standar layanan, terutama aspek higienitas dan alur produksi, benar-benar terpenuhi.

Sidak BGN menjadi sinyal bahwa pemerintah tidak hanya berfokus pada ekspansi program, tetapi juga kualitas pelaksanaan di lapangan.

Ke depan, konsistensi pengawasan dan transparansi mekanisme insentif akan menjadi kunci dalam menjaga kredibilitas program MBG di mata publik.

Jelly

8 / 100 SEO Score

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *