Seren Taun Gelar Alam: 657 Tahun Menjaga Warisan Leluhur, Menyatukan Alam, Manusia, dan Budaya

Screenshot 2025 10 06 131651

SUKABUMI – Seputar Jagat News. Perayaan Seren Taun ke-657 yang digelar di Kasepuhan Gelar Alam, Kabupaten Sukabumi, pada Minggu, 5 Oktober 2025, menjadi bukti nyata bahwa kekuatan budaya lokal tetap berdiri kokoh di tengah arus globalisasi. Tradisi turun-temurun ini bukan hanya sekadar ritual adat, tapi juga merupakan simbol identitas budaya masyarakat Sunda yang terus dijaga dan diwariskan lintas generasi.

Puncak acara ditandai dengan prosesi sakral Ngadiukeun Pare—ritual menaikkan hasil panen padi ke Leuit Si Jimat, lumbung suci yang menjadi simbol kemakmuran dan rasa syukur masyarakat adat kepada Sang Pencipta. Prosesi ini dipimpin langsung oleh Abah Ugi Sugriana Rakasiwi, tokoh adat kasepuhan yang disegani.

Dalam suasana yang penuh kekhidmatan dan nilai spiritual tinggi, hadir pula Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Sukabumi, Gun Gun Gunardi, yang memberikan apresiasi atas keteguhan masyarakat adat dalam menjaga identitas budaya mereka.

“Seren Taun bukan hanya ritual tahunan, tapi warisan nilai luhur tentang gotong royong, syukur, dan kebersamaan. Ini hasanah budaya luar biasa yang mencirikan masyarakat Sukabumi. Tradisi seperti ini harus terus dipelihara agar menjadi sumber kebanggaan dan motivasi bagi generasi muda,” ujar Gun Gun.

Lebih lanjut, Gun Gun menegaskan bahwa Kasepuhan Gelar Alam kini telah diakui secara hukum sebagai masyarakat adat, melalui peraturan daerah dan keputusan bupati. Pengakuan ini bukan hanya bentuk simbolik, tetapi memberikan kekuatan hukum bagi masyarakat adat untuk terlibat secara sah dalam sistem pemerintahan daerah.

“Mereka punya kekuatan hukum dan menjadi bagian sah dari sistem pemerintahan daerah. Ini adalah bentuk nyata penghormatan negara terhadap peran komunitas adat dalam menjaga budaya dan kelestarian alam,” tambahnya.

DPMD menilai bahwa pelestarian tradisi seperti Seren Taun sangat relevan dengan semangat pembangunan desa berkelanjutan. Tradisi ini memperkuat fondasi sosial masyarakat melalui nilai gotong royong, spiritualitas, dan keselarasan dengan alam.

“Kearifan lokal seperti ini adalah ruh pembangunan desa yang sejati,” ujar Gun Gun.

Selain memiliki makna spiritual dan sosial yang kuat, Seren Taun juga menjadi daya tarik wisata budaya. Ribuan pengunjung memadati lokasi acara untuk menyaksikan kesenian tradisional khas Sunda, seperti dogdog lojor, angklung buhun, debus, hingga rengkong—semuanya menghadirkan nuansa meriah yang berpadu dengan kekhidmatan adat.

Tradisi yang telah bertahan selama lebih dari enam abad ini, kini menjadi ikon budaya hidup masyarakat Sunda, sekaligus sarana edukasi budaya bagi generasi muda dan wisatawan.

Gun Gun Gunardi menutup pesannya dengan refleksi mendalam mengenai nilai-nilai yang terkandung dalam Seren Taun:

“Seren Taun bukan sekadar tontonan, tapi tuntunan. Ia mengajarkan harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta — fondasi kehidupan masyarakat Sukabumi yang harus terus dijaga.” (MP)

4 / 100 SEO Score

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *