Cianjur — Seputar Jagat News. Penerimaan Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) Tahun 2025 oleh PKBM Bahtera Alfath yang berlokasi di Desa Sindangsari, Kecamatan Cilaku, Kabupaten Cianjur, menuai sorotan tajam. Pasalnya, jumlah dana yang dikucurkan negara dinilai tidak sebanding dengan kondisi riil jumlah warga belajar di lapangan.
Berdasarkan hasil investigasi tim media Seputarjagat News, PKBM Bahtera Alfath tercatat menerima dana BOP sebesar Rp369.820.000 dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Dana tersebut dialokasikan untuk 29 warga belajar Paket B dan 178 warga belajar Paket C pada Tahun Anggaran 2025.
Namun, fakta di lapangan memunculkan tanda tanya besar.
Tokoh Masyarakat Mengaku Tidak Tahu
Saat awak media mengonfirmasi kepada salah satu tokoh masyarakat setempat berinisial E (50) pada 10 Januari, ia mengaku tidak mengetahui secara pasti jumlah warga belajar di PKBM tersebut.
“Saya tidak tahu persis jumlah warga belajarnya, hanya sepengetahuan saya PKBM itu berdiri tahun 2023,” ujarnya singkat.
Pengakuan Warga Belajar: Siswa Aktif Hanya 10–15 Orang
Sementara itu, pengakuan mengejutkan datang dari seorang warga belajar Paket C berinisial L, yang juga ditemui pada 10 Januari. L mengaku saat ini duduk di kelas 12 dan mengikuti pembelajaran rutin.
“Saya belajar di PKBM itu kelas 12, pembelajaran setiap hari dari Senin sampai Jumat, tapi jumlah siswa yang aktif hanya sekitar 10 sampai 15 orang,” ungkapnya.
L menambahkan bahwa dalam praktiknya, pembelajaran sering kali digabung antara kelas 11 dan kelas 12.
“Kadang kelas 11 dan 12 disatukan, paling total seluruhnya sekitar 25 warga belajar. Kami datang pagi jam 9 untuk menunggu MBG dan belajar di sekolah PAUD,” terangnya.
Saat ditanya mengenai keberadaan siswa kelas 10 maupun warga belajar Paket B, L mengaku tidak mengetahuinya.
Kepala PKBM Tantang Media Datang, Tapi Tak Jawab Substansi
Upaya konfirmasi kepada Kepala PKBM Bahtera Alfath, Uus Supiandi, dilakukan melalui pesan WhatsApp. Namun jawaban yang diberikan dinilai belum menjawab inti persoalan.
“Boleh dilihat aja datang ke sekolah besok Senin ada upacara, kalau ada 10 atau di atas 20 clear ya,” tulis Uus, seolah meyakinkan awak media.
Ketika ditanyakan secara spesifik mengenai keberadaan 178 warga belajar Paket C dan 29 Paket B yang menjadi dasar pencairan dana ratusan juta rupiah tersebut, Uus kembali hanya menjawab:
“Datang aja pak ke sekolah Senin ada upacara biar kelir.”
Sayangnya, hingga berita ini diturunkan, Kepala PKBM belum memberikan penjelasan konkret terkait di mana dan bagaimana keberadaan ratusan warga belajar yang dibiayai oleh negara tersebut.
Publik Menanti Klarifikasi
Perbedaan data antara laporan resmi dan kondisi di lapangan ini memunculkan dugaan serius terkait transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana BOP. Publik kini menanti klarifikasi terbuka dari pihak PKBM maupun instansi terkait agar dana pendidikan yang bersumber dari uang negara benar-benar tepat sasaran.
Tim investigasi Seputarjagat News akan terus menelusuri perkembangan kasus ini. (M/Don)





